Mendidik dengan Inovasi, Dedikasi, dan Hati
Perkenalkan saya Fery Nur Indahsari mahasiswa PPG calon Guru Gel. 1 di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Berasal dari kota kecil yaitu Daerah istimewa Yogyakarta tepatnya dari lereng Gunung Api Merapi Desa tertinggi di Kecamatan Pakem Sleman Yogyakarta. Cuaca yang dingin serta banyaknya tempat wisata yang bisa dikunjungi membuat perekonomian sekitar bertumpu pada pariwisata, bukan hanya tempat wisata saja namun makanan khas Jadah tempe yang biasa untuk oleh-oleh.
Motivasi saya menjadi seorang guru berawal dari keinginan kedua orang tua, karena beliau bercita-cita menjadi seorang guru namun tidak tercapai. Dengan begitu mendorong saya agar menjadi seorang guru. Seiring berjalannya waktu, saya memahami mengapa orang tua begitu kuat agar saya menjadi seorang guru, karena menjadi seorang guru bukan hanya sebuah pekerjaan, melainkan sebuah tanggung jawab yang sangat besarβbukan hanya mengajar namun juga mendidik, membentuk karakter serta membangun harapan untuk murid-murid saya. Dengan begitu besar harapan saya agar tetap bisa menjadi seorang guru yang selalu dirindukan murid di setiap kehadirannya.
"Jadilah guru yang mengajar dengan hati, bukan hanya dengan mulut. Karena pendidikan sejati adalah menuntun, bukan menuntut."
β Ki Hadjar Dewantara
PELUANG USAHA
KELAS XI
Perencanaan pembelajaran mendalam untuk Peluang Usaha bidang wirausaha produk kreatif pemesinan bagi kelas XI TP...
PERLINDUNGAN HAKI
HAKI & MEREK
Rancangan pembelajaran terstruktur Siklus 2 untuk membekali pemahaman murid tentang Hak Atas Kekayaan Intelektual...
PENGUJIAN PRODUK
SIKLUS 3 PRODUK
Modul ajar lengkap Siklus 3 berfokus pada metodologi kendali mutu (quality control) dan tata cara pengujian kelayakan produk manufaktur...
PELUANG USAHA KREATIF
BENGKEL MESIN S1
Panduan komprehensif penemuan dan identifikasi peluang wirausaha kreatif berbasis potensi lokal bidang pemesinan...
PERLINDUNGAN HAKI
PRODUSEN MUDA S2
Membekali murid dengan pemahaman aspek legalitas kekayaan intelektual, perbedaan paten, merek dagang, dan hak cipta...
PENGUJIAN & EVALUASI PRODUK
LAB UJI KUALITAS S3
Menyajikan parameter lengkap pengujian kelayakan fisik produk kreatif manufaktur sesuai standar industri...
Pertemuan 1
Lembar Kerja Murid yang memuat aktivitas Tugas Individu, Tugas Kelompok dan Latihan soal Pilihan ganda dan Essay yang memuat aktivitas terstruktur penjelajahan lingkungan untuk memetakan potensi wirausaha teknik di sekitar sekolah
Analisis HAKI
Aktivitas kelompok berbasis Problem-Based Learning untuk melatih nalar kritis murid dalam menelaah sengketa hak paten...
Tugas Individu
Aktivitas mandiri terstruktur untuk mengevaluasi ketelitian individual murid dalam menyusun ceklis parameter dimensi produk...
Tugas Kelompok
Kolaborasi kelompok merencanakan pengujian fungsional alat kreatif guna mendukung keterampilan teamwork murid...
Pertemuan 1
Lembar Kerja Murid yang telah diisi lengkap dengan hasil observasi wawancara bengkel bubut lokal dan peta analisis SWOT...
Analisis HAKI
Dokumentasi nalar kritis kelompok dalam memformulasikan solusi perlindungan HAKI dan modifikasi desain produk legal...
Perencanaan & Teori
Lembar Kerja Murid yang telah diisi lengkap dengan lembar jawaban evaluasi pilihan ganda dan esai mengenai konsep perencanaan produksi massal...
Media tayang interaktif guna memicu motivasi wirausaha dan pengenalan pasar lokal di bidang pemesinan...
Menyederhanakan esensi materi hukum HAKI lewat visualisasi interaktif alur registrasi orisinalitas karya cipta...
Media interaktif visualisasi skenario pengujian kualitas destruktif dan non-destruktif presisi...
Rubrik penilaian komprehensif untuk materi Peluang Usaha, diagnostik, afektif, dan unjuk kerja...
Instrumen penilaian berbasis rubrik untuk mengukur pemahaman murid terhadap Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), paten, merek, dan hak cipta...
Alat evaluasi komprehensif berbentuk ceklis portofolio laporan akhir pengujian fungsional produk kreatif...
Kumpulan potret kegiatan praktik mengajar, pendampingan belajar, dan momen-momen inspiratif selama berada di lingkungan sekolah.
Analisis artefak produk rencana dan perangkat pembelajaran
Analisis Produk pembelajaran untuk direfleksikan dalam beberapa aspek yaitu:
Kendala utama meliputi penyelarasan rumusan Capaian Pembelajaran (CP) dengan keberagaman level kemampuan murid hasil observasi awal, serta penyusunan instrumen asesmen dan rubrik yang mampu mengukur aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik (Tri-Nga: ngerti, ngrasa, nglakoni) secara holistik dan autentik.
Penyusunan produk sangat mengedepankan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara melalui Sistem Among (menuntun) dan prinsip Tri-Nga (ngerti, ngrasa, nglakoni), yang dipadukan dengan pemetaan tingkat kognitif Taksonomi Bloom, pendekatan Student-Centered Learning, dan teknik pembelajaran scaffolding.
Keberhasilan diukur melalui efektivitas penggunaan media dan sumber belajar yang bervariasi sesuai kebutuhan kelas, skenario pembelajaran yang runtut, serta kemampuan guru dalam memfasilitasi interaksi kelas secara empatik, memberikan umpan balik konstruktif, dan merangsang partisipasi aktif murid.
Adaptasi dilakukan melalui diferensiasi instruksi dan fleksibilitas pemanfaatan media berdasarkan kondisi aktual. Penyesuaian teknik scaffolding, manajemen waktu saat kegiatan kolaboratif, serta modifikasi cara pemberian instruksi dilakukan untuk merespons dinamika pemahaman dan profil murid yang berbeda-beda.
Penilaian dari guru pamong dan Dosen Pembimbing Lapangan terkait kualitas RPP, modul ajar, dan perangkat asesmen yang telah disusun. Mendapat umpan balik yang sangat positif terutama pada aspek kesesuaian indikator dan tujuan pembelajaran.
Dokumentasi hasil penilaian kinerja selama melaksanakan praktik mengajar di sekolah mitra dalam 3 siklus berturut-turut. Terdapat peningkatan signifikan pada penguasaan kelas, variasi intonasi suara, dan kemampuan memberikan scaffolding kepada murid yang membutuhkan.
Sebagai calon pendidik profesional, saya merancang misi utama untuk menjadi guru yang transformatif, adaptif terhadap perkembangan teknologi abad 21, dan selalu berpusat pada kebutuhan murid.
Untuk mewujudkan misi tersebut, perjalanan ini dibangun di atas fondasi empat kompetensi utama (Pedagogik, Profesional, Kepribadian, dan Sosial) serta diperkuat dengan pembentukan karakter luhur (welas asih dan empati) berdasarkan filosofi Ki Hajar Dewantara. Tujuannya adalah untuk mencetak generasi yang tidak hanya tangguh secara keterampilan vokasional, namun juga anggun secara moral.
Misi utama: Membawa inovasi dalam pembelajaran yang relevan dengan tuntutan kompetensi abad 21.
Mampu merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran bermakna yang berpusat pada siswa.
Menguasai materi pelajaran secara mendalam dan luas sesuai dengan bidang keilmuan yang diampu.
Menjadi teladan yang baik, memiliki akhlak mulia, berwibawa, dan mantap dalam bersikap sehari-hari.
Mampu berkomunikasi dan berkolaborasi secara efektif dengan murid, sesama pendidik, dan masyarakat.
Membangun lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan penuh empati sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara.
Bagian ini memuat penjabaran mendalam mengenai pengalaman selama praktik lapangan terbimbing.
Selama PPL Terbimbing, saya belajar mengimplementasikan teori pedagogik ke dalam praksis pembelajaran nyata. Saya memperoleh pengalaman berharga dalam merancang modul ajar adaptif (berbasis Problem-Based Learning dan Deep Learning), menerapkan asesmen diagnostik awal, serta mengelola dinamika kelas secara efektif agar selaras dengan kebutuhan belajar murid.
Tantangan utama adalah menghadapi keberagaman gaya belajar dan mengontrol mobilitas murid saat observasi lapangan dan praktikum bengkel. Solusinya, saya mengoptimalkan instruksi mandiri melalui Lembar Kerja Murid (LKM) interaktif, melakukan pendekatan personal yang humanis, serta menerapkan rubrik penilaian unjuk kerja yang lebih presisi dan terstruktur.
Umpan balik dari guru pamong dan DPL menekankan pada pentingnya manajemen waktu yang lebih efisien antara teori dan praktik. Selain itu, saya disarankan untuk memperbanyak scaffolding bagi murid yang menemui kesulitan, serta lebih memaksimalkan pemanfaatan media visual teknologi guna menjaga fokus murid untuk persiapan di tahap PPL Mandiri.
Filosofi mengajar saya berakar pada keyakinan bahwa pendidikan bukanlah sekadar proses transfer pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan sebuah upaya sadar untuk memanusiakan manusia. Selama menjalani fase observasi dan asistensi pada Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), saya menyadari bahwa setiap murid hadir di kelas dengan keunikan latar belakang dan potensi yang berbeda. Keyakinan ini sejalan dengan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, di mana pendidik berperan sebagai "pamong" yang menuntun segala kodrat alam dan kodrat zaman pada diri murid. Praktik pengajaran yang saya yakini harus berlandaskan pada asas Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayaniβmemberikan teladan saat di depan, membangun semangat saat di tengah, dan memberikan dorongan memandirikan saat di belakang.
Dalam tahap praktik pembelajaran terbimbing, saya mengintegrasikan filosofi tersebut dengan teori konstruktivisme Lev Vygotsky, khususnya melalui konsep Zone of Proximal Development (ZPD). Saya meyakini bahwa pembelajaran bermakna terjadi ketika murid secara aktif membangun pengetahuannya sendiri melalui interaksi sosial dan pengalaman langsung. Oleh karena itu, baik di ruang kelas maupun di bengkel praktik, saya menempatkan diri sebagai fasilitator yang memberikan scaffolding secara terukur. Alih-alih memberikan jawaban secara instan, saya merancang situasi pembelajaran seperti Problem-Based Learning agar murid terlatih berpikir kritis, memecahkan masalah faktual, dan berkolaborasi dalam tim. Nilai kemandirian, kejujuran akademik, dan etos kerja inilah yang senantiasa saya integrasikan dalam setiap sintaks pembelajaran.
Pada akhirnya, kristalisasi dari seluruh perjalanan ini membentuk ideologi profesional saya: menjadi guru yang transformatif, berpusat pada murid (student-centered), dan pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner). Saya memegang teguh prinsip bahwa keberhasilan seorang pendidik tidak hanya diukur dari perolehan nilai teknis (hard skills) murid, melainkan dari sejauh mana pendidik tersebut mampu menyentuh hati dan membentuk kecerdasan moral (soft skills) mereka. Dengan menghadirkan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan mengedepankan asas welas asih, saya berkomitmen mendedikasikan diri untuk mencetak lulusan teknik manufaktur yang tidak hanya kompeten secara profesional, tetapi juga berintegritas tinggi dan berbudaya luhur.